Jaman berburu dan mengumpulkan makanan mengajarkan kita banyak hal terkait perjuangan untuk bertahan hidup. Jaman pertanian mengajarkan banyak hal bagaimana kita bersahabat dengan alam dan membanting tulang mengelola sumberdaya yang ada untuk kebutuhan diri dan keluarga. Jaman Industri memngajarkan kita banyak hal tentang bagaimana peralatan dan infrastruktur di dewakan dan di agungkan. Jaman informasi mengajarkan kita sebuah kecepatan.

Kita ada di sebuah jaman yang telah berubah!

Jaman yang berubah menuntut gaya interaksi yang juga berubah. Pendekatan kinerja yang berubah, gaya kepemimpinan juga berubah.

09-01-2012-20-20-451

Kita bisa liat banyak referensi yang menyebutkan betapa pada saat jaman industri semua mata organisasi, institusi dan bisnis melihat mesin sebagai aset dan manusia sebagai biaya/liabilitas. Bahkan manusiapun diibaratkan mesin yang di pacu, dan dicambuk untuk satu target. Analoginya seperti sapi yang dihadapannya diletakkan rumpun hijau segar tetapi dipecut dengan cambuk agar bisa berpacu lebih cepat. Manusia untuk dianggap asset harus menjadi mesin, apabila tidak maka dia disebut liabilitas, kejam!

Jaman telah berubah!

Di era yang berubah, era teknologi, era informasi dan era kebijaksanaan. Pendekatan produktivitas kinerja seharusnya berubah. Tidak seharusnya lagi kita melihat manusia sebagai biaya tapi manusia sebagai asset, sebagai team yang hebat, sebagai sebuah persahabatan yang kental untuk secara bersama – sama menjadi stimulasi positive dan inspiratif. Tapi apakah masih ada yang beranggapan bahwa dirinya sendiri adalah mesin dan dia sendiri act as a machine? Pasti ada. Sama seperti ketika manusia – manusia pada jaman berburu dan mengumpulkan makanan kebingungan ketika ada sekelompok orang menabur benih, membersihkan gulma dan menyiram tanaman. Mereka melongok dan garuk – garuk kepala melihat aktivitas itu. Tapi pada akhirnya mereka terperangah ketika para petani itu menghasilkan puluhan kali lipat dibandingkan dengan hasil berburu dan mengumpulkan makanan mereka. Akhirnya mereka berubah! Mau tidak mau!

22-ideas

Hmmmm, apa yang terjadi ketika seorang pemimpin mengelola manusia seperti mesin? Manusia tidak akan percaya lagi bahwa kepemimpinan bisa menjadi sebuah pilihan. Kepemimpinan adalah trah, kekuasaan, penguasaan dan hal lainnya yang identik dengan tanda seru dibelakangnya.

Pekerja tidak akan memberikan dampak, kinerja dan kreativitas serta innovasi kepada organisasinya, kepada daerahnya atau bangsanya. Mereka hanya akan menunggu perintah, mereka terlena dengan SOP dan ketakutan, mereka hanya menanggapi sesuai petunjuk, tidak ada inisiatif untuk bergerak dan bertindak dan mereka “bersekongkol”.

Kita sedang menunggu pemimpin dimana hati, pikiran, jiwa dan tubuhnya bergerak linier untuk mengabdi, karena level kepemimpinan tertinggi adalah pemimpin yang melayani (servant leader).

Selamat menunggu pemimpin baru untuk Bali tercinta.

be-a-leader

3 thoughts on “Pemimpin, Rumput dan Cambuk”

  1. di perusahaan swasta nasional atau multinasional dan bahkan beberapa perusahaan swasta kecil sudah menerapkan konsep pemimpin atau atasan yang melayani. apakah pemerintahan bisa menerapkannya juga? nice sharing coach

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *