Hari Sabtu sore WA saya berbunyi, saya mendapatkan chat dari sahabat saya Bapak Nyoman Surasa yang baru saja habis sembuh dari sakit Mag dan keluar dari rumah sakit. Dia bilang “Coach, tanggal 9 September datang ke resto ya, saya ada selebrasi perayaan 3 tahun restoran saya Mr. BOB Restaurant di Nusa Dua” katanya perayaan kecil – kecilan. Langsung saja saya jawab iya.

Dan saya sebenernya tidak ada niat untuk menulis tulisan ini sebelumnya, saya ingin datang untuk ngobrol sambil menyantap iga bakar yang kesohor di manca negara ini.

Hari Senin 9 September jam 7 malam saya sampai di Mr. Bob Resto di kawasan Nusa Dua, tidak ada tanda – tanda perayaan hari jadi di restoran ini. yang ada hanya para pengunjung wisatawan yang saya lihat semuanya bule, dipojokan resto ada akustik yang membuat suasana malam menjadi semakin hidup.

Ini kunjungan saya yang ketiga kali ke restoran ini, dan setiap saya berkunjung saya melihat pengunjung yang berjubel. Hampir semua dari pelanggannya adalah wisatawan manca negara yang berasal dari Australia, Eropa, China dan berbagai negara lainnya.

Saya disambut hangat oleh restaurant managernya dan di antar ke meja yang berlokasi di pojok untuk ketemu Bapak Nyoman Surasa. Wajahnya sumringah menyambut kedatangan saya.

“Pak Man, Apa kabar? Sudah sehat?” tanya saya dan di jawab dengan nada yang sopan yang mengatakan kondisinya sudah sehat seperti semula.

Pak Nyoman Surasa ini sosok yang sangat menginspirasi, lebih dari 20 tahun berprofesi sebagai professional yang bekerja di industri perhotelan sampai ke tingkat General Manager ketika akhirnya memutuskan untuk mundur dari dunia perhotelan dan mendirikan restoran Mr. BOB di sebuah tempat bekas restoran yang sebelumnya sudah tutup karena bangkrut.

Tepatnya tiga tahun yang lalu restoran ini di buka, passion, kecintaan, totalitas berbekal ilmu selama berkarir di hotel di gunakannya dalam membangun bisnis ini. bagi saya perkembangan bisnisnya cukup cepat bahkan sangat cepat. Dalam waktu 3 tahun walaupun berbekal modal yang pas – pasan kini restorannya sudah ada di empat lokasi, sebentar lagi akan di buka satu unit yang baru yang khusus menyasar market lokal. Bisnis hotel juga telah di mulainya saat ini. wow, fantastic!

Beliau juga menyebutkan omsetnya dari bisnis ini yang diminta untuk tidak di publikasi, yang jelas nilainya membuat saya melongo. Ini sosok humble yang bener – bener luar biasa.

Saya mulai mengorek – ngorek rahasia suksesnya dalam menjalankan bisnis ini. sambil makan ribs berukuran 600 gr yang dimasak sangat telaten, empuk dan berasa lumer di mulut, sesekali saya celupin ke sambal cabe dan juga sambal kecap dengan potongan cabe hijau. Yummy….

Beberapa hal menarik yang dikupas dalam obrolan ringan sambal menyantap ribs ditemani red wine dari Saba Bay kurang lebih seperti ini;

Yang pertama adalah passion, dengan passion semuanya menjadi lebih mudah, menjadi lebih ringan dan menumbuhkan antusiasme yang tinggi. Antusiasme ini adalah energi yang melahirkan tindakan yang terarah, efektif dan menginspirasi.

Kedua, selalu menempatkan diri lebih besar dari pada tantangan yang ada, melihat hambatan di depan mata sebagai tantangan yang harus di hadapi dengan sungguh – sungguh dan ikhlas.

Ketiga, Mengetahui segala sesuatunya butuh proses, dengan pengetahuan ini maka kita tidak mudah untuk mengeluh, semuanya membutuhkan ruang dan waktu untuk berproses.

Ke empat, Teamwork. Saya sempat bertanya, apakah restoran ini menjadi begitu sukses dikarenakan oleh keberadaan seorang chef? Ternyata tidak serta merta karena hal itu, Ia menyebutnya kuncinya adalah team work yang solid. Ada Chef, Karyawan dan Owner. Semuanya musti selaras dan selalu termotivasi.

Kelima. Detil. Harga pembelian bahan menjadi nomor dua setelah kualitas bahan. Ia mengatakan ada banyak restoran yang memiliki bagian purchasing yang tidak menempatkan sisi kualitas bahan di lini utama tetapi lebih kepada harga. Pemilihan kualitas bahan yang baik sesungguhnya telah menempatkan  50% pada sisi kualitas makanan yang akan dihidangkan akan menjadi baik pula, sisanya adalah pengolahan dan penyajian.

Keenam, Empathy. Karyawan adalah asset yang paling berharga di dalam lingkaran bisnis yang di bangunnya. Di ulang tahunnya yang ke tiga Ia memberikan reward kepada enam orang karyawannya untuk liburan ke luar negeri. Dia juga memberikan ruang untuk staffnya bertumbuh, beberapa staffnya malah ada yang bekerja sambal kuliah di kampus perhotelan paling keren di Bali saat ini yakni Elizabeth International. Hebat.

Ketujuh, Peka terhadap keinginan pelanggan, bahkan apabila ada tamu yang complaint maka keputusan untuk memberikan compliment terletak di tangan supervisor, alasannya adalah untuk mempercepat proses penanganan, lebih – lebih di era digital dan social media seperti sekarang maka rivew dan komentar di jejaring social sangat perlu di maintaint dengan baik dengan memberikan service yang prima.

Dan kedelapan Disiplin, dia mencontohkan bahwa salah satu chef terbaiknya adalah jebolan professional yang lama berkarir di Jepang, disiplinnya sangat tinggi, motivasinya juga sangat terlihat, semangat dan rasa memiliki (sense of ownership) sangat kental. Ini adalah beberapa ciri seseorang yang memiliki loyalitas yang tinggi.

Sebenernya banyak hal yang saya bisa gali dari kunjungan saya semalam, tapi delapan hal yang saya tuliskan di atas adalah beberapa poin yang saya highlight yang rasanya menarik untuk dibagikan ke para startup khususnya yang ingin memulai bisnis kuliner.

Terima kasih sharing ilmunya Pak Man, semoga sehat selalu dan tetap menebar inspirasi untuk banyak orang.

Salam Nyoman Sukadana.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *