Bagi saya, bisnis adalah tentang kepekaan. Kepekaan untuk melihat lebih dalam terhadap sebuah aktivitas bisnis itu sendiri. Bukan sekedar melihat bagaimana sebuah transaksi dipermukaan.

Bagi saya, mengamati trend ter-update terhadap aktivitas sosial masyarakat menjadi penting untuk mendapatkan insight terhadap pengembangan produk dan layanan kita. Insight yang kita peroleh dari hasil pengamatan dan kepekaan ini akan menjadi formula pemenang yang sangat strategis. Kenapa saya menyebutnya strategis? Iya, karena didalamnya terdapat akumulasi pembelajaran yang kaya, misal, ketika saya berjalan Рjalan melintasi outlet Рoutlet retail dan F& B di Singapura, saya melihat berbagai etalase indah dengan berbagai macam tema didalamnya, dikunjungi oleh pelanggan baik loyal maupun walk in customer yang sekedar lewat. Saya mulai menuliskan apa yang saya lihat ke note book saya, saya mencoba mengamati customers behavior dan bagaimana pebisnis menterjemahkan outlet dan layanannya menjadi linier dengan ceruk marketnya. Saya yakin ini bukan pekerjaan yang mudah, yang tidak bisa sekedar mencontek gaya saja. Bagi saya resep ATM yakni Amati, Tiru dan Modifikasi yang sering diucapkan banyak orang yang juga dikatakan sebagai strategi untuk menjadi juara menurut saya tidak selalu tepat. Dan saya adalah orang yang sebenernya tidak sefaham dengan hal ini, disamping statement itu terlalu menggampangkan sebuah strategi bisnis. Dan menurut saya strategi ini bagi customer malah sudah immune dan bahayanya ketika image yang terbangun di benak pelanggan kita malah perusahan kita di cap sebagai imitating company, bisa Рbisa  apa yang kita lakukan malah akan memperkokoh posisi pesaing kita yang sebelumnya kita jadikan benchmark.

Coach Nyoman

Ketika saya memutuskan membangun sebuah lembaga training center yang bergerak dibidang human development pada tahun 2009 ketika saat itu usia saya 27 tahun. Yang pertama yang saya ciptakan adalah visi. Visi sebuah organisasi yang bagi saya harus tajam. Dan tidak setengah – setengah saat itu saya membenamkan visi sebagai world class training center for hospitality industry.

Ketika sebuah perusahan/organisasi memiliki sebuah visi yang tajam dan hidup, maka visi ini kemudian akan menjadi stimulius untuk selalu bergerak.

Dari visi tersebut akhirnya menuntut saya untuk bergerak, bergeraknya langkah teknis saya dengan melakukan banyak sekali traveling untuk mengunjungi institusi-institusi sejenis di berbagai negara, Singapura, Jepang, Australia, Taiwan, Malaysia, Belanda sampai Switzerland. Saya pulang biasanya membawa banyak catatan dan sekaligus PR untuk dituntaskan. Saya mencari sebuah bentuk ideal dimana sebuah tempat menjadi sebuah meeting point yang tepat antara customer dan perusahaan. Salah satu indikator tepat dalam hal ini adalah bertemunya life style dengan kebutuhan, bertemunya emotional dengan fungsional secara bersamaan. Customer engagement akan tercipta secara utuh dan penuh adalah ketika faktor fungsional sebagai alasan utama mereka membeli dilengkapi sebuah pelayanan yang menyentuh sisi emosional.

Proses faktor teknis dari produksi, pricing, suplay chain sampai dengan barang/layanan sampai kepada customer tidaklah cukup hanya dengan berjalan lancar. Pelanggan saat ini harus dimenangkan dalam banyak hal, kecepatan, cleanliness, konten cerita, warna, proudness, isu philantropic, fair trade, transparansi purna jual akan menjadi poin – poin yang sangat penting apabila ingin tumbuh menjadi brand berkarisma dan trust worthy.

Jangan asal menjiplak dengan isu yang dangkal tanpa analisa dan pembelajaran semacam jurus ATM yang saya sebutkan tadi. Ber-investasi kedalam diri dan memperkaya konten diri akan menjadi long lasting winning formula. Menjadi peka, jujur dan transparant akan menjadi magnet di era yang banyak orang ,menyebut “no place to hide“. Menjadi cepat dan tanggap akan menjadi jampi – jampi di saat semua orang ingin sesuatu yang instan tapi berkualitas (banyak yang menyebutkan bahwa tidak ada sesuatu yang baik dari proses yang instan, tapi dari sisi kaca mata pelanggan yang terjadi saat ini adalah keniscayaan bahwa keinginan mereka adalah “instan dan berkualitas,” pusing kan? Tapi itu yang terjadi dan menjadi PR bagi kita)

Salam
Nyoman Sukadana
Founder & CEO Elizabeth International
Founder & CEO ezzycareer

2 thoughts on “Traveling – Learning – Executing”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *