Lays, Cheetos dan Doritos Hengkang dari Indonesia, Pecah Kongsi.

TV Kabel semakin sedikit saja tergantikan oleh streaming service.

TV Konvensional berusaha membuat channel alternative berbasis digital.

Dulu saya setiap saat klik Detik tetapi semakin kesini kenapa platform ini semakin jarang saya kunjungi.

Di awal pandemic outbreak, Learning Management System yang proper adalah barang mahal, tetapi makin kesini platform LMS menjadi sesuatu yang tidak lagi mahal.

Ternyata isu yang ada saat ini adalah bukan sekedar pergeseran cara yang diakibatkan oleh digitalisasi dan fungsi, tetapi justru sebuah perubahan besar yang menyentuh sisi emosional manusia yang semakin tidak terkendali.

Manusia/customer menjadi gelisah dan banyak keinginan, bahkan keinginan mereka banyak yang belum mampu di bahasakan oleh dirinya sendiri. Bagi saya, ini adalah tantangan hebat dan sulit. Siapa yang akan memenangkan mereka yang gelisah ini? Tidak lain adalah mereka yang peka dan berusaha untuk menggali kegelisahan ini dengan cara – cara yang unik, kreatif dan cerdas. Jujur, saya sempat dan masih sering merasakan kekurangan dalam proses ini sampai akhirnya saya disarankan oleh Prof. Renald Kasali ketika menjadi moderator beliau di sebuah acara Indonesia Tourism Outlook bahwa untuk menghadapi kondisi ini yang dibutuhkan adalah kolaborasi.

Curiosity/keingintauan adalah prinsip yang dimiliki oleh generasi millennial dan Z didalam melakukan proses membangun bisnisnya, bukan hanya sebatas keingin tahuan atas kegelisahan masyarakat, tetapi keingintauan yang dalam akan cara menterjemahkan kegelisahan/harapan ini menjadi sebuah produk atau layanan yang akhirnya mampu membantu masyarakat dan dibutuhkan. Kata dibutuhkan ini lantas menjadi proses ketergantungan dan proses ketergantungan ini kerap menjadikan produk menjadi bertahan dalam kurun waktu tertentu walaupun belum tentu bisa dikatakan sustain karena untuk sustain juga dibutuhkan kreativitas dan inovasi yang sustain pula ☺

Saat ini saya kebetulan sedang melanjutkan studi, pengajar saya sering bicara prinsip parsimony di dalam membuat sebuah karya ilmiah. Awalnya saya berpikir bahwa prinsip ini hanya berlaku pada penelitian ilmiah. Secara definisi Parsimony ini adalah kesederhanaan dalam pemaparan masalah dan memang istilah ini lebih dikenal di kalangan akademis. Tetapi sebagai orang yang senang melihat gejala sosial dalam ranah perilaku konsumen, saya melihat prinsip ini berlaku pada kalangan customer, dimana mereka ini semakin mencari kemudahan – kemudahan di setiap platform yang ada. Dan membuat berbagai kemudahan ini justru adalah sesuatu yang sulit.

Kristalisasi kegelisahan dan harapan ini bukan sesuatu yang mudah, tetapi apabila kita mampu melakukannya maka kita adalah bagian dari sejarah – sejarah kecil yang ada. Saya selalu mencoba untuk melakukan kristalisasi harapan dan kegelisahan ini walaupun terkadang berhasil dan kadang belum berhasil, tetapi semua pelajarannya menjadi sangat berguna dan menjelma menjadi pengetahuan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *