Hari Senin, hari yang bagi sebagian banyak orang adalah hari yang membosankan, tapi tidak untuk Hendra, sahabat saya. Tadi pagi kebetulan janjian ketemuan di acara car free day di Renon, sehabis olah raga ringan kita lanjut menikmati jajan Bali dan segelas kopi, ya segelas kopi karena memang dihidangkan pakai gelas bukan cangkir hehehehehe.

Kita bersenda gurau karena memang kami sangat jarang ketemu karena sama – sama memiliki kesibukan berbeda, Ia sebagai seorang professional disebuah perusahaan di Surabaya dan sudah mencapai posisi VP, sebuah posisi yang cukup nyaman bagi kaum professional.

“Bro, gimana kabarmu” saya membuka percakapan

“Hari Sabtu adalah hari terindah diantara hari – hari yang sangat indah lainnya bro, kamu tau kan kalau aku adalah orang yang sangat passionate dan sangat mencintai pekerjaanku, that’s why aku meretas puncak karirku dalam waktu yang sangat singkat” yesss, Hendra memang orang yang memiliki tingkat kepercayaan diri yang sangat tinggi, satu hal ini yang saya liat berbeda dari dirinya. Dan memang benar, sahabat saya ini menunjukkan prestasi gemilang dalam perjalanan karirnya.

Hendra adalah sosok yang menarik bagi saya, dia mulai karir diperusahan dengan skala bisnis menengah, dia memilki semangat entrepreneurship yang sangat tinggi, itu sebabnya sense of belongingnya sangat tinggi ditempatnya bekerja dan memberikan kontribusi yang sangat signifikan bagi perusahaannya, dalam waktu yang bersamaan dia sebenernya telah mengisi kontens dirinya dari sebuah proses pembelajaran dari tindakan kesehariannya. Kini Ia bergabung dalam satu perusahaan besar dan mengukir prestasi menjadi top executive. Baginya Job desk yang dibebankannya hanya sebagai panduan kerja saja, nyatanya kontribusi yang ia curahkan jauh melampaui judul klasik yang disebut job desk itu. Siapa yang diuntungkan dari sebuah proses kinerja hebat seperti itu? Yang diuntungkan adalah perusahan tempatnya bekerja. Pertanyaan berikutnya siapa yang lebih diuntungkan dari kinerja hebatnya tersebut? Dan jawabannya adalah dirinya sendiri. Yesss, karena dia sebenarnya ada dalam proses mengisi diri, memperkaya diri dan memaknai dirinya dan keberadaannya. Persis seperti salah satu babd ari 7 habits for highly efective people yang ditulis oleh Steven Covey, saat ini adalah era win/win. Kita sama – sama bertumbuh, kita sama – sama menang.

Hendra sering menyampaikan kepada saya, “saya mengkondisikan pagi hari saya menjadi hari yang sangat menyenangkan, saya akan berangkat ke kantor, bertemu dengan sahabat-sahabat, bertemu kolega, membuka komputer, membalas email, memngatur janji meeting dan di waktu luang saya menuangkan ide – ide terbaik saya untuk perusahan saya”.

Tapi di sudut yang berbeda, kita banyak sekali menemui kenyataan yang berbeda,dimana hari Senin adalah hari yang melelahkan dan panjang, bangun pagi, pergi ke kantor, membalas email, melirik – lirik jam dinding, pergi ke sudut – sudut ruangan yang bebas dari pantauan CCTV, membuka HP dan mulai kepoin teman – teman. Bagi Hendra justru hari – hari itulah hari – hari yang melelahkan dan tanpa nilai.

Teman – teman, yuk sambut Senin besok dengan penuh semangat, hidup adalah ranah kita berkontribusi, menjadi young active citizen yang mampu memberikan impact positif mulai dari diri, lingkungan kerja dan organisasi.

Salam

NS

One thought on “Cerita Hendra: Ketika hari Senin begitu indah”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *