Ubud – Kintamani antara Karakter dan Keindahan

Pagi ini saya pulang ke Bangli, kampung halaman saya. Sengaja saya berangkat lebih pagi karena saya sudah menyiapkan sepeda lipat saya di bagasi mobil. lumayan sudah 3 minggu ini jarang mengayuh dan melipat.

first stop saya di pasar Ubud, saya memarkir kendaraan saya dan mengeluarkan si broomie. 

mengelilingi ubud sekitar sejam, mampir di Monkey Forest yang kini menjadi obyek yang super duper keren. sejam cukup untuk menikmati suasana pagi di Ubud, tempat yang memiliki karisma yang luar biasa bagi setiap orang yang mengunjunginya.

Jam 9 pagi saya sampai dirumah, melewati Istana Tampaksiring dan Pura Tirta Empul, penjor – penjor berjejer indah di pinggir jalan.

Saya pikir sampai dirumah saya bakalan disibukkan dengan persiapan Hari Suci Galungan. Eh, ternyata semuanya sudah beres. Jadinya saya tinggal meikmati masakan khas Galungan Bapak saya. Ada timbungan, lawar dan betutu ayam. Hmmm seperti biasa kalori tidak terkontrol kalau sudah menjelang hari raya Galungan hehehehe.

Jam 4 sore saya kepikiran untuk pergi Ke Kintamani, lagi – lagi ingin mengayuh si broomie, sepeda lipat saya. Suasana memang sudah mendung tapi saya coba untuk tetap berangkat.

Sekitar 10 menit saya sampai. Eh ternyata bener gerimis turun. Dan saya memutuskan untuk turun di salah satu restoran untuk sekedar duduk – duduk sambil minum teh panas atau kopi. Dalam beberapa saat saya malah melihat satu gerai kopi namanya AKASA Kopi. 

Dari pinggir jalan saya melihat gerai kopi ini cukup serius dengan bangunan yang di desain vintage dan punya karakter yang menunjukkan bahwa tempat ini di garap cukup serius.

Saya turun dan masuk ke dalam, ketika saya buka pintu dan di sapa oleh para server dengan sangat hangat. Sekilas saya melihat tempat ini keren, hangat dan ada display berbagai cake layaknya sebuah coffee shop di kota – kota besar. 

Saya memilih untuk duduk di teras, menikmati gerimis, gunung dan danau Batur yang anggun menawan walaupun sedikit berkabut.

Seorang server menghampiri saya, bukan menanyakan order tapi malah bertanya “Coach Nyoman ya?”

Hmmm biasanya yang memanggil saya dengan sebutan ini adalah mahasiswa Elizabeth International. Dan bener, sosok anggun ini langsung bilang “Saya alumni Elizabeth International tahun kemarin” Terjadilah obrolan singkat, dan saya sempat menanyakan siapa gerangan pemilik tempat yang keren ini. 

Saya memesan cappucino dan pisang goreng tradisional, ya karena ada beberapa pilihan pisang goreng lainnya. Beberapa saat datanglah pesanan saya, hmmmm jujur ini kopi enak banget. Aroma arabika khas Kintamani yang kuat. Terus saya melihat tampilan pisang gorengnya, menawan, empat slice pisang dengan ukuran besar ditemani saos gula merah yang pekat. Wahhh beneran ini tempatnya keren, makanan enak, kopinya maut plus bomus pemandangan yang exotic. 

Buat teman – teman yang liburan ke Kintamani, ini recommended banget dah buat ngopi – ngopi cantik atau makan siang. Sepertinya kafe ini buka dari jam 9 pagi sampai jam 8 malam. Coba deh googling.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *